Perguruan Tinggi Umum (PTU) yang berperan sangat penting dalam mendidik dan mencetak generasi muda bangsa, juga melihat aspek ini sebagai fenomena yang harus dikembangkan dan mendapat porsi yang sangat besar, mengingat pentingnya hubungan antara ilmu dan agama, meminjam istilah Albert Einstein, knowledge without religion is blind, Religion without knowledge is lamp. Sehingga sangatlah urgen dan signifikan artinya ketika melihat PAI tidak sekedar formalitas pelengkap perkuliahan untuk mendapatkan nilai dan kemudian dapat menjadi sarjana, tetapi bagaimana PAI dan kegiatan keagamaan kampus dapat memberi nilai-nilai teoritis dan praktis yang berpengaruh bagi pengembangan kepribadian dan peningkatan akhlak yang mulia menuju insan yang beriman dan bertakwa, dan menciptakan kehidupan keagamaan kampus yang kondusif, inklusif dan menghargai
Sebagaimana umumnya di semua perguruan Tinggi, baik Perguruan Tinggi Umum maupun Perguruan Tinggi Agama seperti IAIN, masing-masing organisasi ekstra keislaman mahasiswa memberikan warna dan ikut mewarnai kegiatan kampus dari belakang layar. Idealnya meskipun dengan berbagai organisasi ekstra kampus, mahasiswa ketika dalam kegiatan kampus menjalankan program secara bersama-sama dan bersifat inklusif. Mahasiswa-mahasiswa Islam dapat memilih dan bergabung dengan organisasi ekstra sesuai dengan hati nurani dan interest-nya, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), tetapi ketika pada kegiatan kampus dapat secara bersama-sama dari berbagai gerakan kemahasiswaan menghidupkan Islam dalam wadah Universitas, atas nama mahasiswa Universitas dan bukan atas nama gerakan kemahasiswaan tertentu.
Ishak Muhammad, dkk, Eksklusivisme Kegiatan ROHIS di PTU (Studi Kasus di Universitas Jambi), Laporan Penelitian Dana BOPTN Universitas Jambi tahun 2012. Penelitian ini menunjukkan bahwa nuansa eksklusivisme di kampus PTU, khususnya di Universitas Jambi sangat dominan, ROHIS hanya dikuasai oleh aktivis-aktivis KAMMI dengan semua aspek simbol, kegiatan serta keyakinannya, sehingga ada kecenderungan bahwa ROHIS kemudian hanya digunakan sebagai perahu untuk mencapai tujuan kelompok-kelompok tertentu saja, tanpa berpikir bagaimana mengakomodir semua mahasiswa Islam dan menghidupkan kehidupan keagamaan di kampus yang inklusif, moderat serta bersama dalam keragaman.
ROHIS singkatan dari Rohani Islam atau dalam Perguruan tinggi Islam disebut LDK (Lembaga Dakwah Kampus) menjadi sebuah wadah yang esklusif dikegiatan kampus khususnya di Perguruan Tinggi Umum. Namun, dalam kegiatannya cenderung memiliki tujuan tertentu dalam mengakomodir mahasiswa yang ikut di dalamnya.
Referensi :
Komentar
Posting Komentar